Pasar Properti Masih Butuh Edukasi

Oleh Administrator
Jumat, 05 Mei 2017 00:22 — tag : pasar

Bagikan


SURABAYA (WIN) - Harapan membaiknya pasar properti Indonesia pada 2017 ini masih belum padam. Masuk sebagai salah satu kebutuhan utama, hunian memang menjadi mimpi banyak orang. Sayangnya, tak banyak yang mengetahui dengan jelas kapan dan bagaimana mimpi itu bisa diwujudkan.

Sebagai Situs Properti no. 1 di Indonesia, Rumah123 kembali menggelar Sentiment Survey terkait tren perilaku pasar properti di Indonesia. Dari data yang berhasil diolah tim Business Intelligence Rumah123, pasar properti di Indonesia masih sangat menjanjikan dari sisi jumlah konsumennya.

Survei menunjukkan konsumen properti Indonesia masih tumbuh. Sesuai isu bonus demografi saat ini, konsumen properti juga didominasi kalangan usia produktif.
"Konsumen first time home buyer masih menjadi pasar paling besar," ujar Head of Consumer Marketing Rumah123, Fanny Meilana dalam acara Paparan Hasil Sentimen Survey di Surabaya, Kamis (4/5). "Dari data profilnya, 60 persen responden survei ini belum memiliki huniannya sendiri."

Survei menunjukkan 46 persen responden masih tinggal bersama orangtua, atau di rumah warisan, dan sekitar 26 persen menyewa atau mengontrak. Sisanya adalah mereka yang sudah memiliki hunian sendiri.

Meski paling besar dari sisi jumlah, lanjut Fanny, para first time home buyers ini masih membutuhkan edukasi dan arahan tentang bagaimana mewujudkan mimpi mereka dengan lebih cepat. Sebut saja kesesuaian spesifikasi hunian yang sejalan dengan penghasilan.

Selain itu, besaran down payment masih menjadi faktor pertimbangan utama bagi konsumen dalam menentukan huniannya. Menurut Fanny, masyarakat juga masih perlu mendapat edukasi tentang pola pembayaran, baik itu Kredit Pemilikan Rumah (KPR), juga sistem cicilan langsung ke developer. 

"Setidaknya, 52 persen konsumen mengaku belum memiliki uang yang cukup sebagai DP hingga tidak juga mengajukan KPR."
Seperti diketahui, jumlah golongan milenial yang notebene masuk di kelompok usia produktif di Surabaya mencapai 50 persen. Wilayah Sidoarjo, Gersik, dan Mojokerto bisa menjadi alternatif pilihan generasi milenial Surabaya, mengingat harganya masih bisa terjangkau. Edukasi pentingnya membeli properti sangat dibutuhkan, karena setiap tahunnya harga kenaikan properti tidak akan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan gaji disetiap tahunnya.  
                                                            

comments powered by Disqus